Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 27 November 2011

Ringkasan Novel Endensor


endensor
andrea hirata
Buku ketiga dari tetralogi laskar pelangi

“Novel ini kian meneguhkan kehadiran tetralogi Laskar Pelangi sebagai karya unggul yang pasti disukai pembaca.”
--Ahmad Tohari, sastrawan
Diterbitkan oleh Penerbit bentang
Anggota IKAPI
(PT Bentang Pustaka)

Laki Laki Zenit dan Nadir

            Banyak orang yang panjang pengalamanyya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup. Pengalaman semacam itu bak mutiara dan mutiara dalam hidupku adalah lelaki yang mengutuki dirinya sendiri, namanya Weh. Lihatlah perbuatan Weh. Taikong Hamim, penggawa masjid, sampai mengacung acungkan tombak mimbar pada khalayak silang sengketa.
            Langit, kemudi, dan layar, itulah samar ingatku tentang Weh. Tapi disekolah lama Mollen Bass Technisce School aku pernah melihat fotonya. Tak bohong orang bilang, karena Belanda hanya menerima pribumi yang cerdas di sekolah tehnik kapal keruk timah itu, Weh seorang pemuda yang gagah. Ia bergaya, berdiri condong menumpukan tubuh kekarnya di atas pemukul kasti. Namun, sesuatu yang menyayat tersembunyi dalam matanya. Weh mengawasi lekat siapapun yang mendekati fotonya.
            Mengapa Weh kesakitan?
            Ia kena burut. Burut terkutuk yang meniup skrotum dan kelaki lakianyya, bengkak seperti balon sampai jalanyya pengkor. Jampi dan ramuan tak mempan. Ia atau sanak leluhurnya pernah melangkai Qur’an, kualat, tuduh orang kampong tanpa perasaan.
            Aku masih kecil dan Weh sudah tua ketika kami bertemu. Puluhan tahun ia hidup di perahu. Semula aku ragu mendekati perahunya. Weh keluar, ia tampak miris bertemu manusia.
            “lemparkan!”
             Aku terkejut. Itu tidak adil. Ayahku membawa kebaikan untuknya dan ia sama sekali tak punya basa basi. Weh meradang aku bergeming.
            “keras kepala! Mirp sekali ibumu!”
            Ia merapatkan perahunya ke pangkalan. Aku melompat dan berdiri tertegun. Esoknya, tak tahu apa yang menggerakkan ku, aku kembali kepangkalan.
             Aku masih tak tahu mengapa setiap hari aku mengunjungi Weh. Akhir bulan aku memecahkan tabungan pramukaku lalu bersepeda puluhan kilometer ke Manggar demi satu tujuan: membeli radio saku untuk Weh. Weh menerima radio itu, meletakkanya di atas rak, dan tak menyentuhnya selama seminggu.
            Dua minggu berikutnya aku harus ke Tanjong Pandan mengikuti ujian sekolah. Setiap hari di Tanjong pandang aku merindukan Weh. Kembalinya aku bergegas ke pangkalan. Aku menyelinap pelan pelan. Weh tidur meringkuk sambil memeluk radio pemberianku.
             Berminggu minggu berikutnya, aku bersusah payah membujuk ayahku agar diizinkan berlayar bersama Weh. Hari pertama bulan September, Weh mengajakku berburu ikan hiu gergaji. Semakin dekat raksasa kelabu itu ternyata lebih besar dari yangkubayangkan. Mereka adalah gajah dilaut. Ku injak pegas tuas, tempuling yang di tambat seutas tali melesat dari larasnya, menikam punggung hiu dan penguasa laut itu menggelinjang berguling guling seperti buaya mematahkan leher lembu. Weh menuding langit utara. Berjuta serpih putih terapung apung. Adalah ekor putting beliung yang sepanjang hari ini menyapi selat Gaspar. Awan awan sisik di tenggara sana mengabarkan sebentar lagi telur” ikan belanak akan menetas.
            Weh menunjuk berjuta bintang, tak kasat olehku lingkaran itu,, Ia menarik sebatang kayu bakar dan melukis langit. Bara kayu bakar melingkar merah. Aku mengikuti lukisanyya. Ia membagi lingkaran menjadi 12 iris. Dipatrinya symbol symbol aneh di setiap iris lingkaranya,berulang ulang, sehingga dapat kugambar di kepalaku.
Mendebarkan! Langit adalah kitab yang terbentang, kata Weh. Laki laki uzur ini memiliki indra keenam untukmembagi lapisan langit menjadi halaman halaman ilmu.
            Angin meniup layar, perahu menusuk kabut. Tampak sayup setangkup wujud diselimuti halimun hanyut. Tiga ekor elang gogok melesat diam diam. Aku tahu apredator itu ingin menyerbu kawanan pipit yang baru bangun disabana Genting Apit. Aku yakin, daratan utulah tujuanku, Belitong. Aku telah menjadi navigator alam. Sulit ku gambar perasaanku. Aku pulang dari tengah samudra dengan membaca langit. Weh lah yang pertama kali membuatku menjadi seorng lelaki.
            Barat sekali kutinggalkan Weh dua minggu untuk ujian sekolah ke Tanjong Pandan. Turun dari bus reyot, tak sempat aku pulang kerumah, langsung ke pangkalan. Namun, kulihat perahu Weh limbung. Layarnya bergulung. Di ujung terjuntai sepasang kakiyang pucat. Berenang menuju perahu, tubuh Weh terbungkus lilitan layar, barayun ayun. Lelaki pembaca langit itu telah mati. Penyakit yang tertanggungkan telah merobohkan benteng terakhir semangatnya, yaitu aku.
Tubuhku menggigil waktu membuka jalinan tali rami yang menjerat lehernya.
            Dikuburan usang, diantara nisan para pendusta agama itu, aku sadar aku telah mencintai hidupku dari orang yang membenci hidupnya.

Persyarekatan Bangsa Bangsa

Einstein kedua dalam hidupku yang mengenalknku pada diriku sendiri adalah Mak Birah, dukun beranak kampong kami. Nyalo, tak lain ucapan terakhir yang dipakai orang melayu jika kehabisan katauntuk melukiskan dahsyatnya angin, gemuruh hujan, dan gempita petir.
Malam itu, ibuku senewen ingin anak perempuan. Ibu sudah bosan setiap kali dikerubuti laki laki. Persalinan ke lima, cerita Mak Birah.
“Bahkan ibumu telah menyiapkan nama perempua Nur Tantiana Wassallam. Yang artinya cahaya terakhir yang ditunggu tunggu”. Hari persalinan tiba,, Mak Birah selalu menceritakan hal ini bila aku mengantar tembakau dirumahnya. “Tanggal 23 Oktober waktu itu, pukul setengah 12 malam.  Ibumu bersngal sengal sambil melotot, melihat jam weker. Ibumu ternyata menunggu jarum pendek lebih dari angka 12 karena itu tanggal 24 Oktober yang artinya hari berdirinya Persyarikatan Bangsa-Bangsa. Maksudnya ibumu ingin anaknya menjadi seorang juru pedamai seperti PBB. Pukul dua belas lebih sedikit bayi itu lahir.” Mak Birah berteriak “bujang”.

Juru Pedamai

Bayi nomor lima itu berkening luas, ayahku menamainya Aqil Barraq Badruddin. Makna namaku kurang lebih Anak sholeh berjidat mangilap yang tidak akan melakukan hal-hal yang tak masuk akal dalam hidupnya.
            Ternyata, harapan menggelora, hancur berserakan. Aku belum sekolah. Saat itu aku bersekongkol dengan adikku si nomor enam yang juga bujang,. Kejadian itu,menjaji memorandum priemer kejahatanku.
Bulan puasa, aku melubangi buku-buku bamboo dg linggis. Kuisi air dan karbit, lalu kuarahkanke jendela masjid saat tarawih. Gas karbit yang mampat dalam lubang yang sempit berdentum saat sumbunya kusulut. Jamaah kocar-kacir. Aku ditangkap. Malamnya aku didamprat ibuku. Ayah yang pendiam hanya menatapku. Lalu memboncengkanku ke PN Timah. Sepanjang jalan, ayah menasehatiku.

Pengembara Samia

            Kejadian meriam bamboo ituadalah bukti nama Aqil Barraq Badruddin terlalu barat untukku. Ayah memutuskan untuk menggantinya. Demi menemukan nama baru, Ayah berunding dengan orang  yang berseragam. “sudah kutemukan nama itu, Bu!”. Nama ini dapat membuat orang menjadi bijak.
Ayah : arti nama ini adalah pria lemahlembut dan berjiwa besar!
Aku  : wah bagus sekali ya!
            Wadhudh, itulah namanya.
            Sayang, penggembara samia yang bijak bestari itu menjelma menjelma menjadi garong. Tak lama nama itu dilekatkan padaku, aku memimpin komplotan santri untuk menjarah tambul. “Ketua Wadhudh,” begitu santri santri memanggilku. Dengan sodokan sebungkus kuaci, kuhasut adikku untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan pengeras suara masjid. Aku dan Ayah kena siding. Wajah ayah biru menahan malu. Ak menggerut ketakutan. Majelis menuntut ayah bertindak tegas. Posisinya serbasalah. Berat sekali cobaan ayah. Suasana hening. “akan kuganti namanya!”.

Partner in Crime

            Semuanya semakin indah karena keluarga kami memungut Arai, sepupuku, yang mendadak sebatang kara yang genap berusia delapan tahun. Aku memanggilnya Lone Ranger, ia memanggilku Tonto. Dan kami menjadi partner in crime.
            Ayah kembali memikirkan namaku. Ia kehabisan nama untukku. “baiklah Bujang, searang pikirkan sendiri nama untukmu!”. “ayah, bagaimana kalau Andrea?”. “kalau begitu maumu Bujang, apa tadi? Andrea….. ah, bagus juga kedengarannya, tak ada salahnya dicoba,…”.
            Ibu tak setuju. Ayah menangkis. Mulai malam itu aku punya nama baru. Aku menarik kesimpulan, ternyata tabiat orang tak berhubungan dengan gelar yang disimat kepadanya. Kebenaran sederhana itu membuat hatiku ngilu.


Rahasia Grafitasi
Ia tersenyum, aku tak dapat bernapas. “Namaku A Ling…” katanya menyalamiku. Minggu depan kami akan bertemu. Kami akan naik komedi putar, Sabtu sore. Kudatangi took kelontong Sinar Harapan milik ayahnya, A Miauw. Tiba-tiba A Ling muncul langsung menarik tanganku, kita kabur. Rupanya tak aneh selain orang di mabuk cinta. Segalanya tiba-tiba berubah menjadi serba baik. Taikong Hamim! Sama sekali bukan guru ngaji yang kejam, tapi, ia manusia terpilih penegak syiar islam, ulama terpenting penelamat anak-anak.
            Aku ngaji dengan khusyuk. Taikong bergegas menemui ayah ibuku. “tak pernah kulihat taikong seperti ini, Pak Cik,” Ayah kget, sumringah, ibu ternganga.

Segitiga Tak Mungkin
            Aria, Weh, dan Mak Birah, bagiku seperti bangunan segitiga tak mungkin, impossible triangle. Mak Birah, seorang protagonis. Sebaliknya weh, seorang antagonis. Sedangkan Arai, ia malah memperlihatkan jiwa besar.
            Hari ini, dikelas, Arai menggenggam tanganku kuat kuat. Ia terpesona dangan buku yang di gengam Pak Balia. Dengan gaya teatrikal, Pak Balia memikat murid-muridnya sambil mengelus benda itu, seekor iguana dari tanah liat. Kulit iguana itu ditempeli ratusan porselen berwarna-warni. Tapi kepribadian Arai membuatku selalu dipuncak semangatku.
            Esoknya aria menumpang truk ke Tanjong Pandan. Hanya untuk menbeli poster Jim Morison. Arai bangga memamerkan poster itu. Tak tampak lelah dalam matanya. Dan tiga puluh kilometer dari kota SMA kami. Aku melangkah seperti kerangka kayu yang reyot. Kami kehausan dan dehidrasi. Aku berencana untuk membatalkan puasa, tapi Arai tak memper bolehkan. Lalu ia membopongku, kami melangkah terseret-seret. Sampai dirumah, aku terkapar takberdaya. Arai malah tersenyum. tiba-tiba, rasannya prancis dekat saja.

Wawancara
            Tamat SMA aku dan Arai merantau ke Jawa. Di Bogor kami melamar kerja. Sebuah usaha distributor memanggil untuk wawancara. Kami mempersiapkan diri dengan membaca buku Tiga Serampai Rahasia Sukses Wawancara. Ternyata calon majikan kami, seorang wanita mungil berkulit putih.
            Meski gagal dengan gadis kecil itu tapi tak mengapa. Berbekal ijasah SMA kami melamar lagi. Sebuah perusahaan penyedia keperluan dapur memanggil. Kantor perusahaan itu adalah sebuah ruko. Didalamnya, seorang perempuan gemuk berbalik. Ia mengamati kami yang berdiri di ambang pintu ruko. “kalian diterima”, katanya. Esoknya perempuan itu menyuruh kami naik ke bak mobil pick up, berkeliling, lalu menurunkan kami di sebuah perumahan. Jadilah kami seles man. Hany abeberapa minggu bekerja kami di pecat. Penjualan kami memalukan. Nasibku membaik diterima di kantor pos. arai merantau ke Kalimantan, bekerja dan kuliah di sana. Sambil bekerja aku melanjutkan kuliah. Aku dan Arai berhasil menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu. Kami mengikuti tes beasiswa untuk sekolah strata dua ke Eropa. Aku memutuskan keluar dari kantor pos.

Saputangan
            Aku dan arai menerima surat pengumuman tes beasiswa itu di belitong. Dr. Woodward meluluskan tes beasiswa kami. Aku gembira. Berbulan-bualn ku tekuni buku tebal yang runyam sebelum menyusun proposal risetku. Arai berusaha menghubungi Zakiyah Nurmala untuk berpamitan. Perempuan itu tetep indiffient, tak acuh. Sementera aku merindukan A ling. Aku dan Arai akan pergi jauh, doa ayah lebih panjang dari biasanya. Minggu pagi, kami bertolak ke Bandara Soekarno Hatta naik Fokker 28 dari bandara perintis Buluh Tumbang. Kami berpamitan, ayah mennyerahkan bungkusan untuk kami. Pesawat kecil itu terangkat, kulihat ayah melambai-lambaikan saputangan, saputangan yang dulu sring dipakai untuk mengikat kakiku di sepeda forevernya.

Curly
            Tiba di Bandara Schippol. Masih dalam lingkar pemanas Bandara Schippol. Kami celingukan mencri petugas administrasi itu. Ia gadis muda yang luarbiasa cantik, Aku seakan menatap majalah Vogue. Ia bernama Famke. Aku berkenalan dengannya dan aku disebut Curly olehnya. Aku takjub melihat gadis belanda ini. Tak sedikitpun ia kedinginan.


John Wayne
            Kereta meluncur melintasi Urtrect dan Dortrect. Langsung ke kota Brugge. Berat sekali berpisah bersama Famke. Ia telah menjadi sahabat yang terbaik. Kami memasuki halaman dan tertegun di depan pintu yang membingungkan. Kami cepat-cepat mendorong pintu, terbuka. Di lantai tiga kami melihat pintu ditempeli pelat : Simon Van Der Wall, MVgT, Building manager. danMasuk ke dalam ruangan. Simon tinggi, besar dan brewokan, santai tapi anker. Jelas mencitrakan dirinya, John Wayne. Sepanjang hidupnya mati-matian ingin menjadi John Wayne. Sikap Simon lebih dingi 8 derajat clcius. Kulihat arai ingin marah. Aku ingin mengatakan bahwa kami tak tahu harus kemana jika tak boleh tinggal di apartement itu. Kami keluar ruangan, sempat kulirik Simon. John Wayne Palsu! Tengik bukan main.

Paranoia
            Hebat sekali kantor Uni Eropa, arsitektur dasarnya seperti kuburan juragan kaya Tiong Hoa. Gedung Uni Eropa juga metaphor Paranoia, penyakit kronis orang barat. Pengamanan di kantor itu juga amat ketat. Kamera CCTV terpasang di mana-mana. Untuk ketiga kalinya, oleh seseorang yang telah lupa bagaimana cara tesenyum. Lalu, seorang perempuan bertubu penuh, cantik, pirang, menyambut kami. Aku menduga ia seorang skandinavia. Erika Ingeborg, nama perempuan itu, sekretaris Dr. Woodward. Benar sangkaku, ia seorang skandinavia. Erika membawa kami ke kamtor Dr. Woodward. Aku menduga Woodward orang temperamental. Dulu dibantingnya telepon waktu mewawancaraiku tentang akibat ekonomi penyakit sapi gila. Bersama eErika kami kembali ke Brugge. Kami sampai di apartemen Brugge.


Nyonya Besar
            Seminggu penuh kami bekerja keras merumuskan terms riset. Jika ada sedikit waktu, kami menghambur ke Larue de L’etuve. Melihat patung bucah lucu yang sedang pipis. Sabtu malam, kami naik bus dan melesat ke Perancis. Seminggu sudah kami di Eropa. Prancis belum bangun ketika kami tiba di terminal bus Galieni. Ia menerima kami sebagai pembeli tiket pertama. Kami melompat ke dalam metro. Kami sampai di stasiun Trocaderro. Arai berjalan di depanku, tiba-tiba ia memekik. Aku berlari menyusul Arai. Menara Eiffel laksana nyonya besar. Tegak kekar, takpeduli.

Paradoks Pertama
            Maurent LeBlanch nama perempuan itu. Dinilai dari wilayah perut dan lingkar pinggangnya mulai berebut menonjolkan diri, tapi tak berminat punya anak. Pilihan gaya hidup yang sedang booming di Prancis. Tak herang mereka harmonis hidup bersama tanpa anak selama lima belas tahun. Lalu di tanah air? Kriminalitas mengganas, jaminan social amblas, pendapatan per kapita terjun bebas, tapi bayi terus menerus lahir. Rajin sekali kita beranak. Di Apartement Maloot kutemukan Paradoks Pertama.

Aku dan Anggun C. Sasmi
            Minggu berikutnya kami mulai matrikulasi dan terjebak dalam rutinitas yang hanya berisi tiga macam kejadian : kuliah, menonton pertunjukan seni dan belajar di Apartement. Pulang kuliah sore ini, kami iseng mengunjungi took music. Kami meloncat-loncat girang. Karena antara jejeran compact disk musisi duni tampak album Anggun C. Sasmi. Anggun membuatku bangga menjadi orang Indonesia. Kami sering iseng menanyakan kepada orang Prancis apakah mereka mengenal Anggun. Semua orang mengenal perempuan Jakarta nan hebat itu. Suara Anggun membuatku melayang. Anggun adalah artis kesayanganku, selain Rhoma Irama tentu saja.

Mengapa Kau Masih Tak Mau Mencintaiku?
            Ratusan penggemar Morrison dari berbagai belahan dunia tersimbah air mata. Mereka melakukan penghormatan pada sang legenda dari caranya masing-masing. Seorang lelaki tua, pada kecapinya, membawa lagu abadi Jim: “End of Night”. Seorang wanita meniup saxophone melantunkan “Amazing Grace”. Pria Jepang memainkan lagu Jim yang lain “Light My Fire” dengan harmonika.  Hening, laluseorang pria krempeng berpakaian rombeng seperti gipsi, gembel lebih tepatnya, tke depan. Ia tampak sangat terpukul atas kepergian sang artis pujaan hatinya. Pelan-pelan ia mengeluarkan kertas dari sakunya. Ia membentang kertas itu dan membaca puisi sambil menepuk-nepuk dadanya. Para peziarah, yang tak mengerti Bahasa Indnesia bertepuk tangan puisi yang dibawakan Arai sepenuh jiwa. Tak ada yang paham kalao puisi itu bukan untuk Jim.

The Pathetic Four
            Selalu terlambat, berantakan, dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four−empat makhluk menyedihkan−penghuni jejeran bangku paling depan. Mereka itu adalah Monahar Vikaram Raj Chauduri Manooj, Pablo Arian Gonzales, Ninochka Stronovsky, dan Aku. Jika dosen menjelaskan, mereka berulang kali bertanya soal remeh. Anak-anak ini melengkapi diri dengan perekam agar petuah dosen dapat di putar lagi di rumah. Beginiah akibat penguasaan bahasa asing iliah yang memalukan dan efek gizi buruk masa balita. Jika ide mahasiswa negara lain demikian besar sampai ingin mengubah Prancis. Ide the pathetic four sangat sederhana, membujuk pemberibeasiswa agar menaikkan uang saku. Kenaikan itu disimpan untuk belanja sandang murah, maka pakaian musim semi dipakai musim salju, pakaiyan musim salju dipakai saat musim panas. Kami blingsatan, terbirit-birit mengejar ketertinggalan.

Katya
            Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj, sangat tak suka kalao nama panjangnya itu do potong-potong. Kami mufakat menyingkat namanya menjadi MVRC Manooj. Persetujuannya ia nyatakan dengan menggoyang –goyangkan kepalanya. Kawan, goyang kepala itu bukan perkara sederhana tapi semacam cultural gesture. Jika MVRC Manooj menggoyang kepala terus menerus, ia sedang menghormati kawan bicaranya. Jika ia bergoyang tiga kali, apa maksudmu? Aku tak mengerti. Empat kali: Baiklah, akan ku pertimbangkan. Lima kali mantuk-mantuk cepat : aku mau buang air!!. Tapi Gonzales lebih jenaka dari MVRC Manooj, terutama karena pembawaanya yang gembira dan paras baby face-nya.
Sejak awal semester, Gonzales dan MVRC Manooj telah bersekutu dan Ninochka selalu mengekor kemanapun mereka pergi. Ninoch, gadis kecil kurus ini, berasal dari Georgia. Tampaknya ia merasa minder dengan The Brits atau Yankees. Ia selalu bersama The Pathetic Four, kami ber empat adala satu kelompok diskusi. Ketuanya Gonzales.

Paradoks Kedua
            Meskipun kami saling bersaing tajam, semuanya hanya secara akademik. Sering aku merasa heran, Kawa-kawanku The Brits, Yankee, Kelompok Jerman, dan Belanda adalah para pub crawler kawakan. Mereka senang bermabuk-mabukan. Tak jarang mereka mabuk mulai Jum’at sore dan baru sadar Senin pagi. Seperti bohemian, mengaitkan anting di hidung, mencandu drugs, musiktrash metal. Aku yang hidup taat pada perintah orang tua,selalu belajar dengan giat dan tak lupa minum susu, jarang dapat melebihi nilai mereka. Dengan ini, kutemukan paradoks kedua, dalam diriku sendiri.

Gracias, Seńor
            Mendengar Katya menampik D’ archy, MVRC Manooj berdiri kupingnya. Layaknya orang India, amat flamboyan. Mereka senang memuji dan tergila-gila pada sifat sok jeantan. Ketika pensil Kata jatuh, MVRC Manooj melangkah memungut pensil itu dan menyerahkannya kepada Katya. Kepalanya bergoyang-goyang gemulai. Seisi kelas tergelak. MVRC Manooj tak sungkan. Ia hanya juru tulis di kantor Punjab, mengaku bahwa sebenarnya ia adalah seorang executive clerk yang punya enampuluh tujuh anak buah, bahwa sapinya ratusan ekor, da ia juga punya usaha pengolahan tinja menjadi banhan bakar.
            Gonzales takdiunggulkan, dengan gaya untukk mencitrakan dirinya macho, ia menghampiri Katya yang sedang berjemur di halaman kampus. Tawaran Gonzales menggiurkan Katya dan Katya merasa dihargai Gonzales. Dan Gonzales berkata Gracias, Senor.

Helium
            Katya seperti pulau karang tak bertuan. Dirayu-rayu tak mau, diprovokasi ia benci, digombali ia tak peduli, di tipu ia tahu, di umpan ia tak mempan. Kini ia ibarat lotere, bahkan mahasiswa dari urusan lain berlomba. Tiba tiba terdengar kabar menggemparkan. Katya telah menemukan pilihannya! Sungguh tak masuk akal! Sulit dipercaya! Ah, tak mungkin dia! Nauzubillah! Tak masuk akal sekali! Ketika sedang browsing untuk mencari materi paper di perpustakaan, aku terbelalak membaca e-mail dari Katya. Aku merasa ada pipa diblesekkan dalam mulutku, helium dipompa dalam rongga dadaku, lalu melayang seperti balon gas, menyundul-nyundul plafon. Selama ini aku hanya menonton orang berebut Katya. Durian runtuh! Gonzales yang kuminta membacanya, sampai melukis salip di dadanya. MVRC Manooj yang kami beri tahu, kehilangan selera makannya. Katya menyukaiku? Ah, tidak real, tidak mungkin. Langsung kuduga seorang pesaing yang frustasi, yang juga seorang computer freak telah menggelapkan email account Katya untuk memperolokku. Sekarang, helium yang memenuhi rongga dadaku meledak dan aku pecah menjadi ribuan kuntum mawar.

Adam Smith vs Rhoma Irama
            Kini, aku mengerti secara teoretis maksud-maksud John Maynard Key. Pikiranya memerangi pandangan klasik Begawan ekonomi Adam Smith. Aku ingin sekali menjadi seperti Adam Smith menjadi ilmuwan ekonomi. Karena itu, konsentrasi study yang ku ambil di Sorbonne adalah Economic Science. Adam Smith bermata sendu tapi meradang, maka, ia mirip Rhoma Irama. Kucetak fotonya besar-besar, dan kusandingkan dengan foo idolaku, Rhoma Irama.

Surat dari Ayahku
            Sejak hari [pertama di Eropa, waktu masih di Belgia dulu aku telah mengirimi orangtuaku surat. Aku tak mengharap surat-surat itu. Namun, hari ini sangat mengejutkan! Di apartemen kami, menyerahkan sepucuk surat padaku. Aku gugup melihat cap pos di amplopnya, nama kampungku! Pasti ada sesuatu yang amat penting. Usai kuliah, aku menyingkir dari teman-temanku, menyepi di bawah patung Robert de Sorbonne. Ayah berpesan pada kami agar selalu menjalankan perentah agama. Beliao juga mengabarkan berita, yaitu PN Timah telah menaikkan pangsiun mantan buruh timah. Membaca penutup Ayah, hatiku mengembang karena dengan tangannya sendiri Ayah menulis namanya.


Paradoks Ketiga
            Paris mulai menyambut musim panas. Tukang kebab, orang-orang Turki yang terkenal pelit itu, membanting harga sesukanya, penuh pengertian pada mahasiswa negri Dunia Ketiga. Polisi pun menjadi lebih ramah. Di teater-teater, para piñata artistic membongkar dekorasi gotik nan kelam. Yang paling kusuka dari teater musim panas adalah cerita orang-orang kaya baru Asia yang belanja ke Paris. Namun, yang kutonton berulang-ulang adalah parody, tentang dilemma orang mahasiswa di Indonesia di Paris yang menjadi guide bagi para petinggi yang ingin berutang. Di panggung teater musim panas di Paris, kutemukan paradoks ketiga

Artikulatif
          waktu pertma bertemu dengannya di Bandara Schippoldulu, aku telah melihat supermodel Daria Werbowy dalam diri Famke Somers. Kuharap cukup artikulatif kalau kubeberkan angka-angka ini: 180 dan 52. Itulah tinggi dan beratnya dalam sentimeter dan kilogram. Maka dia tiang listrik yang jelita, namun dialah satu-satunya alasanku menonton Fashion TV. Sejak Werbowy dibaiat sebagai supermodel, aku terus mengikuti kabarnya. Aku kagum padanya sebagai pribadi.
            Email Famke hari ini membuktikan instingku itu. Aku yakin, suatu hari nanti perempuan Belanda yang semlohai itu akan menjadi seperti Werbowy. Yang aku tak yakin justru benda yang kupegang saat ini: undangan. Sebuah event organizer mengundangku dan Arai untuk acara fashion show, karena permintaan Famke secara pribadi.

Cinta Adalah Channel TV
            Hari ini aku menjemput Katya di stasiun. Aku rindu padanya. Hari-hari berikutnya kulalui dengan rutinitas yang biasa dengan Katya. Kini aku dilanda perasaan ganjil : setiap melihat Katya, yang ku lihat A Ling. Belasan tahun cinta pertamaku dengan A Ling terkunci dalam diriku, lekat dan indah. Pada suatu kesempatan, saat aku mengantar Katya pulang, aku bertanya,”What love means to you, Katya?”
Aaa… my man cinta adalah channel tv! Tak suka acaranya, raih remote-mu, ganti saluran, beres!”
Aku terkesiap.

Pertaruhan Nama Bangsa
            Townsend histeris mendengar rencanaku dan Arai. Semua orang membuat ancang-ancang untuk liburan musim panas. Sahabat sekelasku merubung kami. Melihat Townsend mengerut, Stansfield mendongak. Ia pasti ingin memperlihatkan dirinya lebih unngul dari perempuan Amerika itu. Situasi jadi sangat serius. Stansfield menenggak tandas martini di gelasnya. Ninoch, aku, Arai, Gonzales, MVRC Manooj, kelompok jerman dan belanda yang mengelilingi kedua perempuan itu, terpaku pada perseteruan yang memuncak antara perempuan Inggris bangsa penakluk dan wanita Amerika berkepala batu. Kami tersentak. Ia ingin ikut ngamen? Mana mungkin? Ide ngamen keliling Eropa saja sudah cukup sinting. Perempuan marah, jangan sekali-kali dianggap enteng.

Sreet Performance
            Paris terang benderang. Peserta pertaruhan ke Eropa kembali berkumpul di kafe. Dengan properti ngamennya masing-masing. Gonzales mencoba penampilannya, ia memainkan bola dengan kaki, dada, tandukan, bahkan dengan perut gendutnya. MVRC Manooj sendiri tampil dengan busana yang membuat napas tertahan. Ia tampak seperti Genie yang baru menguap dari botol. Gonzales dengan MVRC Manooj memadukan sepakbola dan tarian, mengawinkan gairah Meksiko yang binal dengan artistri India yang sensual. Stansfield mendemokan kebolehannya. The Girl From Ipanema,dibawakannya tak kalah dari sentuha Dizzy Gilespie. Ia meniup trombon dengan teknik tinggi. Tentu saja Townsend tak mau kalah. Ia melentingkan nada-nada akordionnya bahkan saat Sansfield belum selesai dengan lagunya. Penonton bertepuk tangan mendengarnya membawakan nada-nada riang Jerry Gracia. Akhirnya kami siap berangkat, diiringi lambaian selamat jalan para sahabat. Katya menghampiriku dengan mengatakan jangan ragu menghubunginya jika kami kesulitan di jalan. Ia hadir dengan kekasih barunya. Hatiku remuk.

Kutukan Capo Lam Nyet Pho
            Townsend ingi ngamen di Piccadilly, London, maka jalur pertamanya adalah Inggris. Stansfield sendiri memulai perjalanan melalui Swiss. Ninochka menyusuri Prancis Selatan menuju Turin, Italia. MVRC Manooj dan Gonzales merambah belgia. Aku dan Arai, karena harus menemui Famke , menuju Belanda. Setelah kami sampai di belanda, Famke menyerahkan kostum ikan duyung kepada kami. Ia mengajari cara ber make-up, menggunakan pembersih, alas bedak, two way cake, bedak tabur, maskara, lipstick, glitter, dan cat body painting. Kami berpisah dengan Famke di Stasiun Sentral Amsterdam. Tujuan kami ke Jerman, melalui kota paling utara Belanda, Groningen. Melihat ekor ikan dupyung itu, aku teringat seorang perempuan luar biasa, jawara pasar ikan, nun jauh bersembunyi di kampungku: Capo Lam Nyet Pho. yang mengutuk kami menjadi Ikan Duyung saat SMA dulu. Dan sekarang kutukan itu terwujut.

Mevraouw Schoenmaker
            Kami berangkat ke Nieuwstad. Groningen’s Red Zone, apakah A Ling terdampar di sini? Di Neuwstad memang banyak perempuan berwajah Asia. Aku bergegas menghampiri rumah sesuai nomer yang kudapat di internet.dari penampakannya aku yakin kalao Mevraouw, begitu nama nyonya setengah baya itu, adalah seorang mucikari. Aku bertanya apakah ia mengenal Njoo Xian Ling. Hatiku runtuh. Dari data yang ku-print ada Xian Ling di kota pantai Belush’ye utara Rusia. Kudengar kabar burung dari para backpacker, lokalisasi di Belush’ye sangat liar tak manusiawi. Aku ingin menanyakan, apakah paras-paras kukunya indah? Namun, aku takut menerima kenyataan bahwa wanita itu A Ling. Aku cepat” minta diri. Hatiku porak-poranda.

Ke Utara, Terus ke Utara
            Gigiku gemeretak dicengkram angin Utara. Denmark dikerubuti air. Di sana-sini air, dan dingin, sedingin orang-orangnya. Mereka berkelompok di kafe-kafe, tak selalu senang berkeliaran, seni mereka adalah lukisan-lukisan di galeri, seni teknologi, musik klasik, atau perfoming arts. Aku optimis. Sebab Helsinky kota yang toleran. Kami membeli tuna sandwich, sepotong dibagi dua, itulah uang kami yang terakhir. Melalui internet, kulihat kemajuan pesaing kami. MVRC Manooj dan Gonzales tengah jaya-jayanya di Belanda. Townsend telah sampai ke Belfast, Irlandia. Stansfield ngamuk, tak lupa ia melampirkan salam manisnya: Bollock! Ia tengah beraksi di kota tua Zalsburg, Ninoch sudah mencapai Spanyol. Kami menempuh jalur yang keliru. Seharusnya kami lebih lama di Eropa Barat.

Pohon-Pohon Plum
            Di Syzran nasib sial menghadang. Kami ditangkap polisi karena mengganggu. Seorang Inspektur tak bisa berbahasa Inggris, malah tersinggung. Baginnya semua orang harus berbahasa sepertinya. Isnpektur itu marah. Ia menghantam perutku. Arai melompat ingin melindungiku. Ia tersungkur, wajahnya menabrak kaki meja. Aku syok, takpernah sama sekali orang memperlakukan kami seburuk itu. Esoknya polisi-polisi itu mengantar kami keluas batas desa. Kami dicampakkan dalam keadaan lapar, mulut bengkak, dan hati yang terluka. Beberapa batang pohon plum tumbuh liar dekat kami. Berbuahnya telah lewat, bahkan putik-putiknya tak tampak. Kami gasak daun-daunnya. Rasanya tak dapat kugambarkan karena aku mengunyahnya sambil memejamkan mata, menahan nafas.

Ujung Dunia
            Jika memang ada ujung dunia, Belush’ye lah tempatnya. Di Taiga, Siberia, paling pelosok. Celah celah dinding papan rumah penduduk Belush’ye masih disumpal potongan koran ketika kami tiba. Mendengar sorang tafari, ia pernah mendengar seorang wanita penghibur bernama Njoo Xian Ling. Tidak ada nama Njoo Xian Ling disini. Jawaban itu seperti tangan yang merobek dadaku, merogoh jantungku. Aku melangkah menuju pintu. Kaki ku seperti digantungi barbel. Aku memutar gagang pintu. Rupanya Xian Ling berdiri di situ menungguku. Ia montok seperti bass cekik, batang lehernya jenjang, berderet-deret di atas rak. Aku melonjak girang seperti orang menang judi buntut karena Xian Ling adalah merek obat kuat yang tertempel di botol-botol

Enigma
            Seperti konstelasi bintang penunjuk arah, kini semua enigma tentang Njoo Xian Ling terang bagiku. Konon Xian Ling diramu sendiri oleh para pelaut. Kami berbalik lagi ke Barat, menuju Olovyannaya, Mongolia.kami melewati kampung demi kampung. Kami terperosok ke pedalaman, menjumpai hal-hal yang aneh misalnya orang Muslim beribadah seperti orang Nasrani dan orang Nasrani fasih membaca Al-Qur’an. Ada masyarakat yang memuja kambing, dan melemparkan ari-ari ke atas atap. Rusia telah membuatku menemukan inti sari diriku. Rusia adalah potongan terbesar mozaik hidupku, zenit dan nadir diriku, seperti pesan Weh dahulu. Kami menumpang truk. Pengemudinya adalah orang orang Chita, bekerja sebagai pemetik buah. Mereka seperti orang Tongsan : lengannya besar, tengkoraknya kukuh, rambutnya kaku, matanya kecil. Penumpang bak truk menggedor-gedor kap depan truk, menyuruh sopirnya berhenti. Kami meloncat turun, mereka berteriak-teriak, senang dan haru. Olovyannaya seperti tanah pengharapan yang kami cari seumur hidup. Kami berlari kencang ke selatan. Di kejauhan tampak papan bertulisan Olovyannaya. Aku telah menaklukkan Rusia!

Arloji
            Arai membeli jam tangan besar dengan tiga lingkaran di dalam. Arai sangat bangga, nyaris terobsesi dengan jam tangan itu.jika ia tidur, jam itu ia selimuti beledu, dan dibaringkan ke dalam kotak. Kuamati jam tangan itu. Memang luar biasa. Aku menbak lingkaran ketiga, seperti water pass. Arai tersinggung tak kepalang. Ia menggebrak meja, mendadak kaca penutup arloji copot, jatuh, aku menatapnya, Arai pucat pasi. Wajahnya kuyu, ia tak percaya, arlojinya telah mengkhianatinya.

Janda-Janda Kecoa
            Secepat kehancuran Yugoslavia, segera itulah kami kembali jatuh miskin. Para pengikut Kristus memberi makan para gelandangan. Kami bangkit dan mundur. Tiga orang lelaki dan seorang perempuan. Yang paling seram si perempuan. Dia pasti menenggak narkoba sejak makan. Tiga pria itu menyebut Ghotia nama perempuan itu. Gothia merogoh jaketnya dan mengeluarkan double stick. Arai malah mengambil kuda-kudan seperti Muhammad Ali. Gila! Arai menantang mereka. Arai berlari-lari, mengayun-ayun tinjunya, persis Muhammad Ali. Sinting! Seumur hidup aku tak pernah sok jago, aku mengeluarkan jurus-jurus yang aku sendiri tak tahu. Aku memanas-manasi Gothia. Jonas nama salah satu lelaki, menarik back pack-ku, isinya terburai. Gothia menginginkan kostum ikan duyung itu. Aku menolaknya. Gothia menariknya dan ia bawa pergi. Di perempatan jalan tampak wajah jenaka. Apa yang dikatakannya membuatku nyaris semaput. Bapak itu tertawa lebar. Ternyata ia orang jawa. Kami melompat-lompat berpelukan. Ia bercerita,ia telah tinggal di Rumania sejak 1965. Menyenangkan sekali bebincang dengan Pak Toha. Paling seru tentang profesinya. Dia seorang pembasmi kecoa. Ketika kami akan pergi ia memeluk kami. Sebab aku tahu, jika nanti ia sampai di Bukares, akan banyak kecoa janda.

Transendental
            Awal September kami sampai ke Estonia. Tanggal 14 September adalah ulang tahun Zakiyah. Seungguh setianya Arai. Kapal Feri membawa kami ke Hamburg. Ada mobil mewah itu memper lambat lajunya lalu berhenti. Seisi mobil bertanya, apakah kami mau masuk kemobilnya. Aku melongos pergi. Aku tertegun, betapa naifnya aku tadi. Aku mengira, laki-laki di pojok belakang itu sorang gay. Mobil ngerem mendadak, tiga ratus tujuh puluh lima Euro bukan sedikit uang. Jika kuiyakan, aku menjadi laki-laki high class.

Enam Belas Tahun Tuhan Menunggu
            Kami penasaran ingin berkenalan dengan imam itu. Namun belum kelihatan orang-orang Afganistan, tiba-tiba Mashood mendekat. Ia berkata kalau imam ingin bertemu. Betapa senangnya kami. Aku terkesiap, imam itu berbalik dengan empat body guard-nya itu. Arai pucat. Ia bernama Oruzgan Mourad Karzani. Kami mengenalnya! Ia yang kulihat di TVRI balai desa. Ia bukan orang sembarang, wajar kalao karismanya mampu menelan kami bulat-bulat. Tuhan tahu, tapi menunggu. Enam belas tahun tuhan menunggu untuk membalas kejahatan Arai dengan rasa malu.

Cinta di Mana-Mana Cinta
            Tepat tangah malam, kereta berhenti di Venesia. Kami telah melintasi rusia. Pria wanita berkerumun di kafe-kafe seperti sedang bersandiwara. Dialek mereka mengalun seumpama nyanyian. Para Pria berseliweran memperebutkan wanita dengan dramatis. Membawa bunga atau bicara romantis kepada wanita, di samping skuter kuning ada orang meyakinkan cintanya, bahwa semalam ia tak pergi dengan wanita lain. Sang wanita bersikap dramatis persis di film-film. Orang italia memandang hidup itu seni. Mereka merayakan kehidupan.

Galliano
            Dulu waktuayahku kehabisan nama untukku, aku menemukan potongan berita di majala aktuil tentang wanita Italia yang mengancam terjun dari tiang telephon jika Elvis Persley tak membalas suratnya. Nama perempuan itu Andrea Galliano. Nama depannya kuambil untuk nama depanku. Dengan logika apapun tak dapat kujelaskan bahwa beberapa menit yang lalu aku baru saja bertemu dengan Andrea Galliano di sudut Milan, kutemukan lagi sepotong kecil mozaik hidupku.

Tanah yang Telah Dijanjikan Mimpi-Mimpi 
            Kami kembali ke Eropa melaluai Maroko dan Casablanca. Sepanjang jalan aku membujuk diriku denga perasaan gembira. Karena kami telah berjanji dengan MVRC Manooj, Gonzales, Ninoch, Stansfield, dan Townsend bejumpa di Spanyol. Di Spanyol aku ternganga-nganga dibawah kubah Sagrada Familia. Katedral itu disanggah pilar-pilar aneh dan seni ganjil. Melihat karya Gaudi lainnya replika reptil-reptil dengan kulit potongan mozaik. Dilu Pak Baria mengibaratkan nasib manusia dan menginspirasi kami untuk berkelana.

Indonesia Raya
            MVRC Manooj duduk terpatung setelah mengisap air mineral. Aku kasihan melihat pasangan unik itu. Stansfield datang dengan pria macho, tinggi, besar. Ia menyalami kami dengan akrab. Townsend datang digandeng seorang pria bertubuh seperti Under Taker. Ninochka tiba dengan ceria. Tak jelas ia sukses atau menderita. Kami mengobrol pengalaman masing-masing. Penjelasan usai, tim Gonzales dan MVRC Manooj adalah tim kalah. Pemenangnya aku dan arai dengan perasaan gembira aku ingin menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Turnbull
            Hopkins Turnbull, profesor yang amat terhormat. Dengan menunggu lama, aku masuk ruangannya ia berkata apakah aku berlibur terlalu lama. Kalimat itu cukup membuatku malu. Profesor Turnbull sudah sepuh. Namun, hari ini rutinitas itu pecah. Katya mneleponku kalau Arai semaput. Pontang-panting aku berlari ke kampus. Aku lihat arai digotong, hidungnya berdarah. Seorang dokter mengabarkan berita buruk. Arai menderita Asma Bronciale. Maurent Le Blance memutuskan untuk memulangkan arai ke Indonesia agar tidak menambah buruk penyakitnya. Aku berpamitan di bandara dengan rasa menyesal.

Lorong Waktu
            Tanggal 28 Maret aku pergi ke Sungai Ouse di Sussex. Membayangkan pengarang Virginia Woolf. Di pinggir sungai aku menemukan Weh ligus rindu dalam sukmaku. Aku berhasil menyelesaikan risetku. Pukul tiga sore aku akan menemui profesor Turnbull. Kami bertemu di kampus. Ia mengundangku kerumahnya untuk menanda tangani laporan akhirku sambil minum teh bersama. Sampai di rumahnya, aku memencet bel sekali. Seorang wanita kira-kira berumur lima puluhan datang. Ia mempersilahkan duduk. Nyonya Turnbull membaca pikiranku. Ia menawari minum teh atau bejalan jalan ke pedesaan. Aku memutuskan berjalan-jalan di pedesaan. Menuju ke halte bus dan naik bus. Di luar jendela kulihat gudang-gudang tua dan banyak lainnya. Pemandangan indah membuatku merasa melompat ke dalam bingkai. Rumah penduduk berselang-seling di jalan setapak. Aku bergegas meminta sopir berhenti, dan aku keluar. Kepada seorang ibu lewat aku bertanya apa nama tempat ini? Ia menjawab “sure lof, its’s Endensor....”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar